in AHP

Penentuan Skala Prioritas Pemeliharaan Valve Berbasis Analytic Hierarchy Process

Prioritas pemeliharaan menjadi penting mengingat banyaknya aset yang beroperasi di perusahaan distribusi gas. Dengan manpower, resource, dan tools yang terbatas, perusahaan dituntut untuk tetap menjaga aset tersebut dalam kondisi prima. Jika tidak ada prioritas & penjadwalan yang baik, maka dapat dipastikan pemeliharaan akan kacau balau. Banyaknya terjadi kasus emergency (tidak termasuk yang tidak disebabkan oleh pihak ketiga) salah satunya disebabkan oleh buntut dari efek domino pemeliharaan yang tidak tertata dengan baik.

Sebagai ilustrasi:

Gambar-13

Grafik di atas menunjukkan grafik perbandingan reliability vs waktu. Konsep umum yang berlaku menyatakan bahwa suatu peralatan pasti akan mengalami penurunan reliability seiring berjalannya waktu. Diilustrasikan terdapat 3 unit alat dengan grafik performance seperti di atas kemudian dilakukan perbaikan dengan mempertimbangkan prioritas. Pemeliharaan pertama, kedua, dan ketiga berturut-turut dilakukan terlebih dahulu pada Alat 2, Alat 1, kemudian Alat 3. Artinya alat yang paling berisiko untuk gagal (ditunjukkan oleh kondisi peralatan lebih buruk) diasumsikan memiliki peluang gagal lebih cepat/besar.

Hasilnya, maintenance berhasil dilakukan secara terencana dan tidak ada alat yang mengalami gagal sebelum dilakukan pemeliharaan. Reliability kembali naik sehingga menambah “umur” masing-masing peralatan.

Untuk membandingkannya dengan pemeliharaan yang tidak berbasis prioritas maka diasumsikan perbaikan dilakukan berturut-turut pada Alat 1, 2, dan 3. Grafik reliability akan menjadi seperti berikut:

Gambar-14

Hasil:

  1. Maintenance pertama berjalan lancar, peralatan berhasil diperbaiki sebelum alat 1 gagal.
  2. Maintenance kedua dilakukan pada saat alat kedua mengalami kegagalan.
  3. Maintenance ketida berjalan lancar, peralatan berhasil diperbaiki sebelum alat 3 gagal.

Hal ini menunjukkan bahwa prioritas adalah penting, segera, dan harus diimplementasikan. Jika menganalisa biaya pekerjaan (akan dibahas pada BAB selanjutnya) dan gas loss yang ditimbulkan maka pemeliharaan tanpa berbasis prioritas tentu akan menghasilkan angka yang lebih tinggi daripada pemeliharaan berbasis prioritas. Hal ini tercermin pada tabel perbandingan berikut:

Gambar-15

Siklus Pemeliharaan

Gambar-16

Roda siklus dimlau dengan ditetapkannya rencana kerja dan penjadwalan dan kemudian berjalan sebagaimana tergambar pada grafik di atas. Namun sebelum siklus berjalan, maka diperlukan data-data inspeksi mutakhir yang dilakukan secara komprehensif pada objek-objek yang akan dipelihara. Objek-objek yang termasuk dalam objek pemeliharaan dapat diklasifikasi menjadi 5 aset utama yaitu:

  1. Pipa dan fasilitasnya
  2. Valve
  3. M/RS
  4. Peralatan pendukung proteksi katodik
  5. Jembatan

Untuk mempersempit ruang lingkup, maka objek yang menjadi bahasan adalah valve.

Sebagai pendahuluan, perlu diketahui terlebih dahulu apa saja perbaikan yang dilakukan terhadap bak valve.

Perbaikan tersebut antara lain adalah sebagai berikut, namun tidak terbatas kepada:

  • Mengganti tutup bak valve yang rusak.
  • Mengganti pengait tutup bak valve yang rusak.
  • Mengontrol bak valve yang sering terendam air untuk memastikan tidak adanya korosi eksternal akibat interface dengan air.

Dengan metode ini akan memberikan gambaran gamblang kepada fungsi pemeliharaan dengan pendekatan pemeliharaan berbasis objek yaitu: Objek/Peralatan Mana yang Harus Diprioritaskan Untuk Diperbaiki? Kemudian setelah prioritas objek/peralatan terdefinisi, fungsi pemeliharaan memiliki pekerjaan yang akan lebih mudah: melakukan pemeliharaan mengikuti jalur prioritas tersebut dengan memperhatikan perbaikan apa yang dikerjakan pada alat tersebut dan menimbang resource yang ada. Dengan demikian, siklus eksisting akan mengalami suatu proses antara yaitu Object Priority Based Planning sehingga siklus akan menjadi seperti berikut.

Gambar-17

Pada bagian berikutnya akan dijelaskan secara rinci langkah apa saja yang dilakukan untuk menghasilkan output prioritas pemeliharaan dan pembuatan schedulenya.

Penetapan Prioritas Valve yang Akan Dipelihara

Bak Valve dan Valve di dalamnya

Penentuan Kriteria Penilaian

Kriteria penilaian dibagi menjadi 2:

Kriteria Umum
  • Fungsi valve yang ada di bak (main, branch, atau venting valve)
  • Diameter valve di dalam bak (semakin besar semakin diprioritaskan untuk dilakukan pemeliharaan)
  • Posisi valve yang ada dalam bak (open atau close)
  • Jumlah valve dalam bak valve (semakin banyak semakin diprioritaskan untuk dilakukan pemeliharaan)
Kriteria Maintainable

Yang dimaksud dengan kriteria maintainable adalah kriteria yang nilainya dapat berubah menjadi baik setelah dilakukan pemeliharaan atau memburuk seiring berjalannya waktu karena terdegradasi.

Gambar-18

Data mentah bak valve terlampir pada Lampiran 2 (mohon request pada komentar jika ingin mengakses lampiran ini).

Penentuan Skala Prioritas Antar Kriteria Penilaian

Gambar-19

Gambar-22

Gambar-20

Prioritas Pemeliharaan Valve

Tahapan penting dalam prioritas ini adalah melakukan kuantifikasi atas input. Beberapa input dari assessment masih berupa judgment verbal atau kualitatif. Adalah tugas sang analisator untuk mengubah tersebut ke dalam angka yang diinginkan dan logis. Untuk mempermudah kuantifikasi maka nilai ditetapkan dalam skala 1-9 agar sesuai dengan penilaian menurut Saaty dimana 9 merupakan angka prioritas tertinggi. Sebagai contoh, dalam melakukan penilaian kriteria valve di atas, beberapa judgment kualitatif dikuantifikasi ke dalam nilai berikut.

Gambar-21

Tabel berupa data kuantitatif dapat dilihat pada Lampiran 3 (mohon request pada komentar jika ingin mengakses lampiran ini). Setelah dianalisa menggunakan AHP, maka valve yang harus diprioritaskan untuk diperbaiki dapat dilihat pada Lampiran 4 (mohon request pada komentar jika ingin mengakses lampiran ini).

Monitoring Concept

Siklus harus terus berjalan. Setelah prioritas didapatkan, tentu dengan mempertimbangkan resource yang ada, maka pekerjaan pemeliharaan akan dieksekusi. Dalam rangka memantapkan hasil pekerjaan serta laporan kepada manajemen, perlu dilakukan penilaian dan evaluasi terhadap hasil pekerjaan dibandingkan dengan kondisi setelah perbaikan.

Untuk meluruskan monitoring concept ini, dijabarkan dulu setidaknya 2 tujuan utama pemeliharaan.

  1. Dari segi pekerjaan, seluruh pekerjaan pemeliharaan terselesaikan dengan tepat waktu.
  2. Dari segi peralatan, kondisi peralatan terjaga di bawah nilai asset maintainable condition yang diperbolehkan.

Asset maintainable condition didefinisikan sebagai nilai yang mencerminkan kondisi peralatan. Nilai ini adalah nilai kuantifikasi alat seperti di Tabel pada Lampiran 3 yang pada poin sebelumnya telah dibahas. Manajemen tentunya harus menetapkan terlebih dahulu angka ini.

Dikarenakan tujuan pada butir a. sudah termonitor lewat manajemen proyek, maka dengan sendirinya tujuan butir b. menjadi bahasan dalam tulisan ini.

Contoh perhitungan nilai asset maintainable condition adalah sebagai berikut.

  1. Filter rekapitulasi hasil ranking dengan memasukkan hanya kondisi maintainable (yang dapat dimaintenance)

Hasil dapat dilihat pada tabel lampiran.

  1. Inverse nilai kriteria maintainable terhadap nilai maksimum.
  2. Asset maintainable condition = total jumlah inverse kriteria maintainable.
  3. Jumlah asset maintainable condition kemudian dirata-rata.
  4. Tentukan angka target asset maintable condition. (misalkan 90%).

 

Dari penjumlahan di atas, dapat disimpulkan bahwa percent overall asset maintainable condition = 86%. Jika target asset maintainable condition diset pada angka 90%, berarti item ranking 1 hingga 61 harus diperbaiki hingga 100% agar tercapai angka 90%.

Waktu pelaksanaan                              : 1 tahun

Jumlah valve yang harus dipelihara     : 61 unit

Asumsi kecepatan                                : 5 unit per bulan

Gambar-23

Setiap bulan data input harus selalu diperbarui sehingga fungsi kontrol berjalan maksimal dan corrective action dapat dilakukan segera.

Write a Comment

Comment